Sabtu, 01 Oktober 2011

Kompas Brunton














Sesar


Sesar adalah struktur rekahan yang telah mengalami pergeseran. Secara geometris sesar merupakan struktur bidang, walaupun keberadaannya dilapangan dapat berupa bidang atau jalur sesar. Sesar umumnya berhubungan dengan struktur yang lain terutama rekahan secara umum, lipatan, bidang belahan dan sebagainya.
Gejala sesar secara umum ada 2 yaitu Gejala Primer dan Gejala Sekunder, gejala-gejala tersebut dapat dikenal di lapangan sebagai berikut :

A.   Gejala Primer

Gejala primer adalah gejala sesar yang sangat kuat sebagai data yang merupakan bukti adanya sesar,dimana terbentuk langsung dari pengaruh sesar itu sendiri.gejala primere ini sudah cukup merupakan buktin adanya sesar,dsan tiodak perlu harus dihadirkan gejala sekunder,disini data sekunder hanya merupakan data penembah untuk penarikan jalur sesar pada peta,jalur yang dilalui sesar disebut zona sesar.zona sesar dapat berukuran sempit atau cukup lebar hingga ribuan meter.zona sesar dapat memanjang lurus dan dapat pula melengkung dan berpotongan,tergantung dari jenis sesar,yang tentunya berasal dari adanya gaya pembentuk sesar tertentu pula.seperti:

1. Joints (kekar)
Gejala ini banyak ditemukanm disepanjang zona sesar,yaitu terbentuk akibat adanya pergeseran blok dan mungkin bersifat kekar tension,dengan petunjuk analisis kekar,maka sifat dan arah sesar yang disertainya dapat diketahui.

 2. Friction breccia (breksi sesar)
Friction breccia atau fault breccia diartikan sebagai breksi yang terbentuk akibat pengaruh langsung dari suatu sesar,yang komponennya tersusun dari hancuran batuan yang tersesarkan.breksi sesar lebih banyak terbentuk pada batuan yang lebih mudah remuk.breksi sesar dapat dipakai untuk menentukan arah gerakan sesar dengan memperhatikan susunan dan sifat penyebaran ukuran fragmennya,bila ditemukan gradasi orientasi fragmenya,maka kearah kasar menunjukkan arah geseran blok dihadapannya.suatu breksi sesar yang dapat terlihat oleh batuan beku,apabila sewaktu terjadinya pergeseran disertai dengan injeksi magma atau berupa intrusi maupun lelehan,pada zona sesar tersebut.

3. Scratchs

Scratchs atau goresan yang terdapat pada bidang sesar,scratchs berasal dari adanya tonjolan batuan pada saat berlangsungnya pergeseran,seperti halnya pada cermin sesar maka arah geseran sesar dapat ditentukan.

4.Spur

Spur merupakan tumpukan material halus pada bidang sesar,spur berasal dari hancuran batuan yang tersaesarkan.biasanya spur terbentuk karena material hancuran terangkut pada suatu permukaan tidak rata atau gerakan sesar berhenti.arah geaseran dapat ditentukan dengan melihat dibagian mana yang menyebabkan spur tersebut tersangkut,itulah arah geseran dihadapannya.

5. Slickensides/cermin sesar

Gejala ini disebut pula cermin sesar yaitu kenampakan-kenampakan adanya suatu kesan goresan halus dan licin,akibat gesekan kedua blok batuan yang tersesarkan.goresan yang sifatnya licin ini dapa pula berbentuk kasar dan tidak perlu selalu rata,cermin sesar ada kecenderungan lebih banyak terbentuk pada sesar geser dimana pembentukannya dengan tekanan yang relative tinggi,tanpa gelombang energi atau gerakan yang tidak merata baik kecepatan maupun arahnya.cermin sesar dapat ditemukan sebagai bidang sesar dan sulit dibedakan dengan bidang kekar gerus atau bidang foliasi batuan.

6. Drag fold

Gejala pelengkungan ujung lapisan batuan diantara blok yang bergeseran turun atau naik,dapat ditemukan pada sesar turun atau sesar naik.

7.Mylonite

Adalah miccrobreccia,biasanya berstruktur foliasi halus atau laminasi gerusan.dilapangan mylonite dapat ditemukan menyerupai lempung pada bidang sesar.terbentuk pada daerah lebih dalam dari pada breksi sesar,akan tetapi bila dijumpai bersamaan dengan breksi sesar,maka akan menunjukkan adanya perubahan kondisi tekanan yang tidak merata.terbentuk pada tekanan yang tinggi.

8. Discontinuity of structures

Kenampakan suatu lapisan batuan yang menghilang dengan tiba-tiba digantikan dengan lapisan yang lainnya,umumnya dengan jurus dan kemiringan yang berbeda yang tampak secara lateral.

9. Trail

Trail adalah semacam hancuran seperti spur yang ukurannyalebih kasar dan dapat pula menentukan arah geseran sesar seperti pada spur,

10.Repeatedly of rock formation

Gejala ini adalah kenampakan perulangan lapisan batuan atau formasi batuan secara lateral,terbentuk akibat pergeseran lateral lapisan batuan,yang berkembang pada sesar mendatar.


B. Gejala Sekunder

Gejala sekunder adalah suatu kenampakan berupa indikasi adanya sesar,akan tetapi bukan pengaruh langsung dari suatu sesar,kehadirannya tanpagejala primer memungkinkan penafsiran sesar yang diperkirakan,dan apabila gejala sekunder ditemukan bersama gejala primer,hal ini lebih baik karena disini gejala sekunder berfungsi sebagai pelengkap gejala primer untuk menarik atau menafsirkan suatu sesar,seperti:

1.    Triangular Facets

Kenampakan lereng bukit yang menyerupai jajaran segitiga-segitiga yang memanjang lurus dan biasanya latar depannya berupa topografi relatif datar dengan endapan kipas alluvial,hal ini terjadi sebagai hasil sisa erosi setelah terjadi perubahan slope akibat sesar turun.

2.Silisifikasi

Karena zona sesar merupakan zona yang lemah,maka dapat berfungsi sebagai jalur yang lebih mudah untuk dilewati larutan baik larutan hidrotermal maupun hasil pelarutan kimiawi,dan bahkan dalam dimensi besar zona sesaar dapat dilalui suatu intrusi batuan beku,hingga biasanya pola intrusi dapat mengungkapkan pola struktur geologi suatu daerah.

2.    Break ib a stream profile

Terpotongnya penampang sungai secara melintang oleh sesar,yang terbentuk pada sesar turun,sehingga sungai akan menampakkan air terjun.

4.Fault scarps (gawir sesar)

Fault scarps atau gawir sesar yaitu suatu gawir memanjang mengikuti zona sesar,dapat ditemukan pada zona sesar turun atau sesar naik,dalam keadaan tertentu scarps dapat ditemukan pada sesar geser bila suatu bukit yang terpotong.dalam peta topografi scarps dapat ditunjukkan oleh adanya kelurusan kontur yang rapat.

5. Differences in sedimentary fasies
Dilapangan dapat pula ditemukan perubahan facies akibat engaruh structure,yaitu lapisan tua menindih lapisan muda,dimana faciesnya berbeda,terbentuk karena batuan tua terdorong keatas hingga menumpangi batuan yang muda,hal ini terjadi pada sesar naik.
6. Offset Ridges

Offset ridges atau pergeseran punggung ukit akibat pengaruh sesar geser,banyak ditemukan pada kompleks pegunungan yang terpotong oleh sesar mendatar.

7. Mineralisasi

Juga seperti halnya silisifikasi,yaitu terbentuknya mineral tertentu seperti mineral logam dasar pada zona-zona sesar tersebut
.
8. Crushed and land slide

Sesar gerus biasanya dapat menyebabkan mineral feldsfar apabila mendapat suatu kenaikan tekanan yang tinggi,remukan batuan akan lebih banyak terbentuk,menyebar dan mengikuti zona sesar.permukaan lapisan batuan menyebabkan kondisi batuan tidak stabil sehingga dapat menyebabkan longsoran terutama pada zona sesar aktif.

9. Springs (mata air)

Mata air yang timbul akibat terpotongnya suatu formasi akuifer,dapat menunjukkan suatu indikasi sesar,penjajaran mata air akan lebih dimungkinkan oleh keterdapatan suatu jalur sesar.mata air panas diluar jalur gunung api dapat mengindikasikan sesar aktif,hal ini terbentuk dari akibat gesekan atau tekanan yang membesar pada kedalaman yang mana formasi akuifer terpotong oleh sesar sehingga air panas muncul kepermukaan sebagai indikasi sesar aktif.


10. Offset Stream

Kenampakan adanya pergeseran aliran sungai akibat sesar mendatar,bentuk sungai membelok dengan tiba-tiba,melalui jalur sesar yang lurus,bentuk ini menampakkan suatu meander yang lekas pada daerah sesar dalam bentuk meanser patah.

11. Kaolinization dan sphjeroidal weathering

Pada batuan yang banyak mengandung mineral feldsfar apabila mendapat suatu kenaikan tekanan dan temperature,maka akan terjadi ubahan mineral feldsfar dan membentuk kaolin yang biasanya pada permukaan batuan tersebut disertai dengan pelapukan kulit bawang (pengelupasan).

12.Sesar Turun

Pada sesar turun yang bersifat tumbuh,bila terjadi pengendapan diatasnya akan menyebabkan variasi dari pada ketebalan sediment yang berbeda.pada bagian yang turun,sediment akan lebih tebal dibanding dengan bagian yang naik.hal ini akan nampak jelas apabila diadakan pemboran atau penggalian didaerah sesar tersebut.

13. Mikrofold

Lipatan kecil yang terdapat pada batuan yang tersesarkan,akibat tekanan yang bekerja pada batuan plastis,hal ini dapat terjadi pada bagian hanging wall sesar naik.

14. Timbulnya suatu terumbu karang disepanjang pantai dengan undak-undak gelombang dapat merupakan indikasi atau gejala pensesaran naik,begitu pula sebaliknya  atau berkembang sesar turun yang aktif.

15.Topografi Differences of rocks

Pada sesar turun dan sesar naik,dapat memberikan suatu kenampakan topografi yang berbeda dimana suatu batuan yang sama ditemukan bersamaan pada topografi yang sangat berbeda.pada kenampakan ini dapat ditemukan gejala sesar lainnya berupa kelainan topografi.

16.Pembentukan danau pada daerah relative tinggi

Ini dapat terjadi jika suatu aliran sungai terpotong oleh sesar turun dimana bagian yang turun adalah bagian hulu sungai sehingga air sungai selanjutnya akan tertampung membentuk danau-danau.

17. Gejala-gejala gerakan tanah

Gejala gerakan tanah sepanjang zona sesar seperti creeping,lngsoran dan lain-lain.aktifitas sesar yang bekerja terus menerus menyebabkan terganggunya klestabilan dan resistensi  batuan  atau topografi,sehingga dapat menimbulkan gerakan tanah atau batuan.

18. Batuan kwarter yang tersesarkan terlebih pada batuan resen yang dapat menunjukkan indikasi sesar aktif,seperti pada sesar yang terjadi pada batukarang kwarter dan dapat pula berupa kekar memanjang pada endapan alluvium.



19. Differences in strike and dip sedimentary rocks

Perbedaan strike dan dip batuan sediment dapat terjadi oleh pengaruh pensesaran.pergeseran lapisan batuan akibat sesar dapat menyebaban adanya perbeaan strike dan dip batuan sediment diantaranya blok yang saling bergeser paa sesar turun dapat menyebabkan perubahan dip yang mencolok,sedang pengaruh sesar mendatar,perubahan dip akan terjadi namun dalam keaadaan kacau akibat tektonik yang kuat,sehingga strike juga berubah.

20. Lithologic Boundaries

Batas litologi yang kacau yang juga kadang overlap diantara batuan dapat menunjukkan adanya sesar,utamanya pada sesar  naik,sedangkan pada sesar turun dan sesar mendatar dapat menyebabkan batas litologi yang relative lurus tegas dan panjang

21. Escapment
gejala struktur yang hamper sama dengan gawir namun gejala ini lebih besar

22. Soil purba/Paleosoil
Dijumpai adanya soil yang berumur paleosen yang dijumpai pada permukaan bumi hali ini jelas diakibatkan oleh adanya sesar.

23. dijumpai adanya Ofiolit dan Melange




24. Air Terjun
Air terjun terbentuk dari adanya patahan atau turunnya suatu perlapisan batuan secara tiba tiba yang dilalui oleh aliran air. Umumnya air terjun dijumpai akibat adanya sesar turun

25. Zona hancuran
Zona hancuran merupakan daerah lemah dimana dilalui oleh sesar yang mengakibatkan batuan yang terdapat pada daerah tersebut mengalami penghancuran yang kemudian akan membentuk kumpulan dari blok batuan yang hancur.

26. Jalur Kataklasis
Gejala sesar pada batuan kristalin sangat sukar untuk dikenali disebapkan tidak adanya lapisan lapisan petunjuk. Di daerah yang terdiri dari batuan yang homogen, sesar biasanya dapat dikenali dengan adanya jalur jalur kataklastis. Kadang kadang hanya dapat dikenali dibawah mikroskop.

27. Perubahan vegetasi yang mencolok , artinya pada suatu topografi terdapat perubahan vegetasi. Pertumbuhan vegetasi yang berbeda juga mengindikasikan adanya sesar.




Skarn


Skarn
I. Definisi
Skarn dapat terbentuk selama metamorfisme kontak atau regional. Selain itu juga dari berbagai macam proses metasomatisme yang melibatkan fluida magmatik, metamorfik, meteorik, dan yang berasal dari laut. Skarn dapat ditemukan di permukaan sampai pluton, di sepanjang sesar dan shear zone, di sistem geotermal dangkal, pada dasar lantai samudra maupun pada kerak bagian bawah yang tertutup oleh dataran hasil metamorfisme burial dalam. Skarn dibagi menjadi endoskarn dan eksoskarn dengan didasarkan pada jenis kandungan protolit.

II. Mineralogi
Secara umum, Kuarsa dan kalsit selalu hadir dalam semua jenis skarn. Sedangkan mineral lain hanya hadir pada jenis skarn tertentu seperti talk, serpentine, dan brusit yang hadir hanya pada skarn tipe magnesian.
Berikut kami berikan contoh gambar dari skarn :





Add caption



Gbr. Outcrop Skarn Type

III. Evolusi skarn
Formasi dari skarn deposit merupakan hasil dari proses yang dinamis. Pada sebagian besar skarn deposit, terdapat beberapa transisi dari metamorfisme distal yang menghasilkan hornfels dan skarnoid ke metamorfisme proximal yang menghasilkan skarn yang mengandung bijih berukuran relatif kasar. Selama gradien suhu yang tinggi dan sirkulasi fluida skala besar akibat intrusi magma, metamorfisme kontak dapat menjadi lebih kompleks dibandingkan model rekristalisasi isokimia yang menyusun metamorfisme regional. Semakin kompleks fluida metasomatisme, akan menghasilkan keterkaitan antara proses metamorfisme yang murni dengan proses metasomatisme.

IV. Zonasi Skarn deposit
Terdapat pola zonasi pada skarn pada umumnya. Pola zonasi ini berupa proximal garnet, distal piroksen, dan idiokras (atau piroksenoid seperti wolastonit, bustamit dan rodonit) yang terdapat pada  kontak antara skarn dan marmer. Selain itu, masing-masing mineral penyusun skarn dapat menunjukan warna yang sistematis atau komposisi yang bervariasi dalam pola zonasi yang lebih luas.

V. Petrogenesis
Sebagian besar skarn deposit secara langsung berhubungan dengan aktivitas pembekuan batuan beku sehingga terdapat hubungan antara komposisi skarn dengan komposisi batuan beku. Karakteristik penting lainnya diantaranya tingkat oksidasi, ukuran, tekstur, kedalaman, maupun seting tektonik dari masing-masing pluton.

Tektonik Setting
Klasifikasi tektonik yang sangat berguna dari deposit skarn seharusnya mengelompokkan tipe skarn yang pada umumnya berada bersama dan membedakannya yang secara khusus terdapat dalam tektonik setting yang khusus. Sebagai contohnya, deposit skarn calcic Fe-Cu sebenarnya hanyalah tipe skarn yang ditemukan dalam wilayah busur kepulauan samudra. Banyak dari skarn ini juga diperkaya oleh Co, Ni, Cr, dan Au. Sebagai tambahan, beberapa skarn yang mengandung emas yang bernilai ekonomis muncul dan telah terbentuk pada back arc basin yang berasosiasi dengan busur volkanik samudra (Ray et al., 1988). Beberapa kenampakan kunci yang menyusun skarn tersebut terpisah dari asosiasinya dengan magma dan kerak yang lebih berkembang adalah yang berasosiasi dengan pluton yang bersifat gabbro dan diorit, endoskarn yang melimpah, metasomatisme yang tersebar luas dan ketidakhadiran Sn dan Pb.
Kebanyakan deposit skarn berasosiasi dengan busur magmatik yang berkaitan dengan subduksi dalam kerak benua. Komposisi pluton berkisar dari diorit sampai granit walaupun pada dasarnya memiliki perbedaan diantara tipe skarn logam yang muncul untuk mencerminkan lingkungan geologi setempat (kedalaman formasi, pola struktural dan fluida) lebih pada perbedaan pokok dari petrogenesis (Nakano,et al., 1990). Sebaliknya, skarn yang mengandung emas pada lingkungan ini berasosiasi dengan pluton yang tereduksi secara khusus yang mungkin mewakili sejarah geologi yang khusus. Beberapa Skarn, tidak berasosiasi dengan subduksi yang berkaitan dengan magmatisme. Pluton yang berkomposisi granit, pada umumnya mengandung muskovit dan biotit primer, megakristal kuarsa berwarna abu-abu gelap, lubang-lubang miarolitik, alterasi tipe greisen, dan anomali radioaktif.  Skarn yang terasosiasi, kaya akan timah dan fluor walaupun induk dari elemen lain biasanya hadir dan mungkin penting secara ekonomis. Perkembangan rangkaian ini termasuk W, Be, B, Li, Bi, Zn, Pb, U, F, dan REE.

DAFTAR PUSTAKA


-          Atkinson, W. W., Jr. and Einaudi, M. T., (1978) Skarn formation and
mineralization in the contact aureole at Carr Fork, Bingham, Utah. Economic Geology, 73, p.1326-1365.


Jumat, 30 September 2011

Makalah Metamorf

BAB I 
PENDAHULUAN

A.    Latar  Belakang Masalah
Sekarang ini, metode pembelajaran di dunia kampus telah berubah. Pemerintah mengubahnya dengan maksud agar lulusan-lulusan Universitas nantinya dapat lebih berkwalitas. Oleh karena itu, latar belakang penyusunan makalh ini adalah dimaksudkan agar mahasiswa lebih aktif dalam mencari materi dan bahan kuliah, sehingga dosen hanya berperan sebagai mediator.

B.     Maksud dan Tujuan
Maksud dan tujuan dalam pembuatan makalah ini adalah agar para pembaca nantinya dapat lebih memahami daripada materi batuan metamorf, dapat mengetahui pengertian batuan metamorf, agen-agen yang berperan dalam proses metamorfisme, facies dari batuan metamorf, dan mineral-mineral penyusunnya.

C.Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang dapat kami buat berkaitan dengan pembahasan nantinya adalah sebagai berikut :
1.      Apa pengertian dari batuan metamorf?
2.      Apakah agen-agen dari batuan metamorf?
4.      Apa saja mineral-mineral penyusunan batuan metamorf?






BAB II 
 PEMBAHASAN


  1. Pengertian Batuan Metamorf

Batuan metamorf adalah hasil dari perubahan-perubahan fundamental batuan yang sebelumnya sudah ada. Panas yang intensif yang dipancarkan oleh suatu massa magma yang sedang mengintrusi menyebabkan metamorfosa kontak. Metamorfosa regional yang meliputi daerah yang sangat luas disebabkan oleh efek tekanan dan panas batuan yang terkubur sangat dalam.
Dalam kedua tipe metamorfosa, fluida dalam batuan dapat membatu perubahan – perubahan kimiawi. Air adalah fluida utama, tetapi unsure – unsure kimia seperti klor flour, brom, dan lain-lain dapat keluar dari batuan sekililingnya.
Proses metamorfosa terjadi dalam fasa padat, tanpa mengalami fasa cair, dengan temperatur 200oC – 6500C. Menurut Grovi (1931) perubahan dalam batuan metamorf adalah hasil rekristalisasi dan dari rekristalisasi tersebut akan terbentuk kristal-kristal baru, begitupula pada teksturnya.
Menurut H. G. F. Winkler (1967), metamorfisme adealah proses yang mengubah mineral suatu batuan pada fase padat karena pengaruh terhadap kondisi fisika dan kimia dalam kerak bumi, dimana kondisi tersebut berbeda dengan sebelumnya. Proses tersebut tidak termasuk pelapukan dan diagenesa.
Batuan metamorf atau batuan malihan adalah batuan yang terbentuk akibat proses perubahan temperatur dan/atau tekanan dari batuan yang telah ada sebelumnya. Akibat bertambahnya temperatur dan/atau tekanan, batuan sebelumnya akan berubah tektur dan strukturnya sehingga membentuk batuan baru dengan tekstur dan struktur yang baru pula. Apabila semua batuan-batuan yang sebelumnya terpanaskan dan meleleh maka akan membentuk magma yang kemudian mengalami proses pendinginan kembali dan menjadi batuan-batuan baru lagi.


  1. Agen-Agen Batuan Metamorf

Agen yang dimaksud disini adalah media-media yang berpengaruh atau berperan dalam pembentukan batuan metamorf tersebut, dalam hal ini disebut metamorfisme.
Media atau agen yang menyebabkan terjadinya proses matamorfisme adalah panas, tekanan, dan cairan kimia aktif. Ketiga agen ini dapat bekerja bersama-sama pada batuan yang mengalami proses metamorfisme dan kontribusi setiap agen berbeda-beda. Pada metamorfisme tingkat rendah, kondisi temperatur dan tekanan hanya sedikit di atas kondisi proses pembatuan pada proses pembentukan batauan sedimen. Sedangkan pada metamorfisme tingkat tinggi, kondisinya sedikit di bawah kondisi proses peleburan batuan menjadi magma. Bagaimana ketiga Agen di atas dapat bertindak sebagai agen yang menyebabkan proses metamorfisme dapat di baca di bawah ini.

-          Peranan panas dalam proses metamorfisme

Panas merupakan agen matamorfisme yang sangat penting. Batuan yang terbentuk dekat permukaan bumi akan mengalami perubahan kalau mengalami pemanasan yang tinggi pada waktu diterobos oleh magma. Apabila panas magma tidak terlalu tinggi, proses metamorfisme tidak terjadi. Pada keadaan yang demikian akan terjadi proses pembakaran batuan yang diterobos yang disebut baking effect.
Batuan yang terbentuk di permukaan bumi juga dapat mengalami perubahan temperatur yang sangat tinggi apabila batuan tersebut mengalami proses penimbunan yang dalam. Seperti telah diketahui bahwa temperatur akan meningkat dengan meningkatnya keadaaan (gradient geothermal). Pada kerak bumi bagian atas, rata-rata penaikan temeperatur sekitar 30oC per kilometer. Batuan dekat permukaan bumi juga dapat mengalami pemindahan tempat ke tempat yang lebih dalam. Proses ini terjadi pada pertemuan lempeng-lempeng tektonik konvergen, yaitu pada zona subduksi (penunjaman).
Proses perubahan juga terjadi pada mineral penyusun batuan, yang kestabilannya berubah karena perubahan kedalaman. Contohnya, mineral lempung menjadi tidak stabil pada kedalaman hanya beberapa kilometer, dan akan mengalami rekristalisasi menjadi mineral yang lebih stabil pada kondisi temperatur dan tekanan yang lebih tinggi, akan mengaami proses metamorfisme pada kedalaman sekitar 30 kilometer.

-          Peranan tekanan dalam proses metamorfisme

Tekanan seperti halnya temperetur akan meningkat dengan meningkatnya kedalaman. Tekanan ini seperti tekanan gas, akan sama besarnya ke segala arah. Tekanan yang terdapat di dalam bumi ini merupakan tekanan tambahan dari tekanan pada batuan oleh pembebanan batuan di atasnya. Pada keadaan ini batuan akan mengalami penekanan yang berarah, dan pemerasan. Batuan pada tempat yang dalam akan menjadi plastis pada waktu mengalami deformasi. Sebaliknya pada tempat yang dekat permukaan bumi, batuan akan mengalami keretakan pada waktu mengalami deformasi. Hasilnya batuan yang bersifat rapuh akan hancur dan menjadi material yang lebih halus.
Perhatikan table dan bagan di bawah ini !







-          Cairan kimia aktif sebagai agen metamorfisme


Larutan kimia aktif, umumnya adalah air yang mengandung ion-ion terlarut, juga dapat menyebabkan terjadinya proses metamorfisme. Perubahan mineral yang dilakukan oleh air yang kaya mineral dan panas, telah banyak dipelajari di beberapa pegunungan api. Di sepanjang pematang pegunungan lantai dasar samudera, sirkulasi air laut pada batuan yang masih panas mengubah mineral pada batuan beku basalt yang berwarna gelap menjadi mineral-mineral metamorf seperti serpentin dan talk.

  1. Facies-facies dari batuan metamorf

Secara umum, batuan metamorf tidak secara drastic mengubah komposisi kimia selama metamorfisme, kecuali dalam kasus khusus dimana metamorfisme yang terlibat (seperti dalam produksi skarn). Perubahan dalam suhu dan tekanan lingkungan yang batu itu dikenakan . Tekanan dan suhu lingkungan tersebut sebagai fasies metamorf. Urutan fasies metamorf diamati dalam setiap metamorf medan, tergantung pada gradient panas bumi yang hadir selama metamorfisme.
          
Gradien panas bumi yang tinggi seperti yang diberi label “A”, mungkin akan hadir disekitar batuan beku intrusi, dan akan menghasilkan batuan metamorf milik homfels fasies. Di bawah normal gradient panas bumi tinggi, seperti “B”, batu-batu akan akan maju dari facies zeolit untuk greenschist, amphibolite, dan eclogite facies sebagai kelas metamorfisme (atau kedalaman penguburan) meningkat. Jika gradient panas bumi yang rendah hadir, seperti satu diberi label “C” dalam diagram, maka batu akan kemajuan dari facies zeolit untuk blueschist facies untuk eclogite facies.
    Jadi, jika kita mengetahui facies dari batuan metamorf di wilayah ini, kita dapat menetukan apa yang gradient panas bumi pasti seperti pada saat metamorfisme terjadi. Hubungan antara gradient panas bumi dan metamorfisme akan menjadi tema diskusi dan tektonik lempeng.


D.    Mineral-Mineral Penyusun Batuan Metamorf

Pada umumnya, mineral-mineral penyusun batuan metamorf sangatlah banyak. Tetapi, yang umum terdapat dalam batuan metamorf adalah seperti di baewah ini.
1.    Felspar., bentuk dan sifatnya sama dengan feldspar pada batuan beku atau sedikit pipih karena tekanan.
2.    Kwarsa, bentuknya sedikit pipih atau mengkristal tak teraturberwarna agak mengkilap, putih jernih atau putih kehijauan oleh pengotoran mineral-mineral klorit, banyak terdapat dalam batuan gneiss dan sekis serta filit.
3.    Mika, bentuk dan sifatnya sama dengan batuan beku, sering dalam bentuk lembaran-lembaran halus, dapat membetikan warna mengkilap pada filit, sekis dll. Banyak terdapat pada batuan sekis dan gneiss.
4.    Klorit, berwarna hijau, coklat atau hijau kehitaman, bentuk terpilin atau bengkok, seperti sisik atau seperti tanah.
5.    Andalusit, mengkilap dalam system rhombis, prismatic kasar, berwarna pudar, merah jambu sampai merah violet.
6.    Aktinoloit, mengkristal dalam system monoklin, menjarum halus, atau serupa serat-serat, rapuh, warna hijau atau abu-abu kehijauan, kilap viterus sampai sutera. Kekerasan 2-3, mineral ini terutama di temukan pada batuan metamorf  sekis, gneiss dan marmer.
7.    Glaukofan, Kristal monoklin, prismatic seperti serat, batang atau butiran, pecahan concoidal, warna biru abu-abu atau biru kehitaman. Biasanya berasosiasi dengan muscovite, kwarsa, dan sphene.
8.    Kianit, bentuk Kristal triklin, memanjang atrau lempeng-lempeng. Kekerasannya 4-7, juga dapat berbentuk serat-serat atau batang. Warna biru laut, kilap vitreus. Ditemukan dalam batuan sekis dan gneis.
9.    Garnet, Kristal system regular, bentuk kubus, granular seperti pasir, warna merah jambu hingga merah coklat atau merah tua. Kilap viterus, kekerasan 6,6 – 7,5. Transparan hingga opak, Dijumpai pada batuan sekis dan Gneis.
10.    Talk, mengkristal dalam system monoklin, bentuk granular, tipis-tipis seperti mutiara. Berminyak, kekerasan 1 – 2, banyak terdapat dalam batuan sekis, berasosiasi dengan batuan serpentin dan magnesit.
11.    Serpentin, bentuk Kristal pipih atau seratan fleksibel. Kilap sutera atau lemak, warna merah kecoklatan dan hiaju kekuningan, kekerasan 3,0 – 5,5. Dijumpai dalam batuan serpentin, atau pada sekis. Berasosiasi dengan klorit dan talk.
12.    Kordierit, mengkristal dalam system orthorombik, prismatic pendek, kompak atau granular, berwarna abu-abu kebiruan, hijau kuning atau tak berwarna. Kilap vitreus, seperti gelas dengan kekerasan7-7,5, seperti kwarsa biru. Banyak dijumpai dalam batuan gneiss, sekis dan pegmatite, berasosiasi dengan garnet/granat, mika, kwarsa, andalusit, silimnit, dan staurolit.
13.    Silimanit, Kristal seperti kordierit. Panjang-panjang tipis seperti jarum, serabut yang radier atau seperti batang ada striasi, radier, kadang-kadang bengkok, warna abu-abu, putih atau kuning pucat. Ditemukan dalam batuan sekis, gneiss, dan pegmatite.
14.    Tremolit, mengkristal dalam system monoklin, lempeng-lempeng berserat seperti asbes, granular. Warna putih, abu-abu, hijau atau kuning. Kilap viterus, belahan prismatic menyudut, 56ºdan 124º. Kekerasan 5 -6, Terdapat dalam batuan sekis, dan marmer.
15.    Wolastonit, Kristal system triklin, tabular, prismatic, berserat-serat parallel, menyebar atau granular. Warna putih ke abu-abuan atau tidak berwarna. Kilap sutera, kekerasan 4 – 5, merupakan mineral batuan metamorfisme kontak yang berasosiasi dengan garnet, diopsit, vesuvianit, termolit, epidot, dan kalsit. Banyak ditemukan dalam batuan marmer dekat kontak batuan beku granit.



BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan

Batuan metamorf adalah hasil dari perubahan-perubahan fundamental batuan yang sebelumnya sudah ada. Panas yang intensif yang dipancarkan oleh suatu massa magma yang sedang mengintrusi menyebabkan metamorfosa kontak. Metamorfosa regional yang meliputi daerah yang sangat luas disebabkan oleh efek tekanan dan panas batuan yang terkubur sangat dalam.
Media atau agen yang menyebabkan terjadinya proses matamorfisme adalah panas, tekanan, dan cairan kimia aktif. Ketiga agen ini dapat bekerja bersama-sama pada batuan yang mengalami proses metamorfisme dan kontribusi setiap agen berbeda-beda.
Secara umum, batuan metamorf tidak secara drastic mengubah komposisi kimia selama metamorfisme, kecuali dalam kasus khusus dimana metamorfisme yang terlibat (seperti dalam produksi skarn). Perubahan dalam suhu dan tekanan lingkungan yang batu itu dikenakan . Tekanan dan suhu lingkungan tersebut sebagai fasies metamorf. Urutan fasies metamorf diamati dalam setiap metamorf medan, tergantung pada gradient panas bumi yang hadir selama metamorfisme.
Mineral-mineral yang umum terdapat dalam batuan metamorf adalah Felspar, kwarsa, Mika, Klorit, Andalusit, Aktunolit, Glaukofan dan lain-lain.

B.    Saran

Dalam praktikum di laboratorium sebaiknya lebih di intensifkan lagi, atau paling tidak lebih di tekankan lagi sehingga praktikan dapat lebih mengerti dan memahami dari pada materi.



DAFTAR PUSTAKA

o    Budi, Rohmanto, Ir. Geologi Fisik. Makassar : Universitas Hasanuddin, 2008.

o    M.S. Kaharuddin. Penuntun Praktikum Petrologi. Makassar : Jurusan Teknik Geologi, 1988.

o    Setia Graha, Doddy, Ir. Batuan dan Mineral. Bandung : Nova, 1987.