Sabtu, 01 Oktober 2011
Sesar
Sesar
adalah struktur rekahan yang telah mengalami pergeseran. Secara geometris sesar
merupakan struktur bidang, walaupun keberadaannya dilapangan dapat berupa
bidang atau jalur sesar. Sesar umumnya berhubungan dengan struktur yang lain
terutama rekahan secara umum, lipatan, bidang belahan dan sebagainya.
Gejala sesar
secara umum ada 2 yaitu Gejala Primer dan Gejala Sekunder, gejala-gejala
tersebut dapat dikenal di lapangan sebagai berikut :
A. Gejala
Primer
Gejala primer adalah gejala sesar yang sangat kuat
sebagai data yang merupakan bukti adanya sesar,dimana terbentuk langsung dari
pengaruh sesar itu sendiri.gejala primere ini sudah cukup merupakan buktin
adanya sesar,dsan tiodak perlu harus dihadirkan gejala sekunder,disini data
sekunder hanya merupakan data penembah untuk penarikan jalur sesar pada
peta,jalur yang dilalui sesar disebut zona sesar.zona sesar dapat berukuran
sempit atau cukup lebar hingga ribuan meter.zona sesar dapat memanjang lurus
dan dapat pula melengkung dan berpotongan,tergantung dari jenis sesar,yang
tentunya berasal dari adanya gaya pembentuk sesar tertentu pula.seperti:
1. Joints (kekar)
Gejala ini
banyak ditemukanm disepanjang zona sesar,yaitu terbentuk akibat adanya
pergeseran blok dan mungkin bersifat kekar tension,dengan petunjuk analisis
kekar,maka sifat dan arah sesar yang disertainya dapat diketahui.
2. Friction breccia (breksi sesar)
Friction
breccia atau fault breccia diartikan sebagai breksi yang terbentuk akibat
pengaruh langsung dari suatu sesar,yang komponennya tersusun dari hancuran
batuan yang tersesarkan.breksi sesar lebih banyak terbentuk pada batuan yang
lebih mudah remuk.breksi sesar dapat dipakai untuk menentukan arah gerakan
sesar dengan memperhatikan susunan dan sifat penyebaran ukuran fragmennya,bila
ditemukan gradasi orientasi fragmenya,maka kearah kasar menunjukkan arah
geseran blok dihadapannya.suatu breksi sesar yang dapat terlihat oleh batuan
beku,apabila sewaktu terjadinya pergeseran disertai dengan injeksi magma atau
berupa intrusi maupun lelehan,pada zona sesar tersebut.
3. Scratchs
Scratchs atau
goresan yang terdapat pada bidang sesar,scratchs berasal dari adanya tonjolan
batuan pada saat berlangsungnya pergeseran,seperti halnya pada cermin sesar
maka arah geseran sesar dapat ditentukan.
4.Spur
Spur merupakan
tumpukan material halus pada bidang sesar,spur berasal dari hancuran batuan
yang tersaesarkan.biasanya spur terbentuk karena material hancuran terangkut
pada suatu permukaan tidak rata atau gerakan sesar berhenti.arah geaseran dapat
ditentukan dengan melihat dibagian mana yang menyebabkan spur tersebut
tersangkut,itulah arah geseran dihadapannya.
5. Slickensides/cermin
sesar
Gejala ini
disebut pula cermin sesar yaitu kenampakan-kenampakan adanya suatu kesan
goresan halus dan licin,akibat gesekan kedua blok batuan yang
tersesarkan.goresan yang sifatnya licin ini dapa pula berbentuk kasar dan tidak
perlu selalu rata,cermin sesar ada kecenderungan lebih banyak terbentuk pada
sesar geser dimana pembentukannya dengan tekanan yang relative tinggi,tanpa
gelombang energi atau gerakan yang tidak merata baik kecepatan maupun
arahnya.cermin sesar dapat ditemukan sebagai bidang sesar dan sulit dibedakan
dengan bidang kekar gerus atau bidang foliasi batuan.
6. Drag fold
Gejala
pelengkungan ujung lapisan batuan diantara blok yang bergeseran turun atau
naik,dapat ditemukan pada sesar turun atau sesar naik.
7.Mylonite
Adalah
miccrobreccia,biasanya berstruktur foliasi halus atau laminasi
gerusan.dilapangan mylonite dapat ditemukan menyerupai lempung pada bidang
sesar.terbentuk pada daerah lebih dalam dari pada breksi sesar,akan tetapi bila
dijumpai bersamaan dengan breksi sesar,maka akan menunjukkan adanya perubahan
kondisi tekanan yang tidak merata.terbentuk pada tekanan yang tinggi.
8. Discontinuity of
structures
Kenampakan
suatu lapisan batuan yang menghilang dengan tiba-tiba digantikan dengan lapisan
yang lainnya,umumnya dengan jurus dan kemiringan yang berbeda yang tampak
secara lateral.
9. Trail
Trail adalah
semacam hancuran seperti spur yang ukurannyalebih kasar dan dapat pula
menentukan arah geseran sesar seperti pada spur,
10.Repeatedly of
rock formation
Gejala ini
adalah kenampakan perulangan lapisan batuan atau formasi batuan secara
lateral,terbentuk akibat pergeseran lateral lapisan batuan,yang berkembang pada
sesar mendatar.
B.
Gejala Sekunder
Gejala sekunder
adalah suatu kenampakan berupa indikasi adanya sesar,akan tetapi bukan pengaruh
langsung dari suatu sesar,kehadirannya tanpagejala primer memungkinkan
penafsiran sesar yang diperkirakan,dan apabila gejala sekunder ditemukan
bersama gejala primer,hal ini lebih baik karena disini gejala sekunder
berfungsi sebagai pelengkap gejala primer untuk menarik atau menafsirkan suatu
sesar,seperti:
1. Triangular Facets
Kenampakan
lereng bukit yang menyerupai jajaran segitiga-segitiga yang memanjang lurus dan
biasanya latar depannya berupa topografi relatif datar dengan endapan kipas
alluvial,hal ini terjadi sebagai hasil sisa erosi setelah terjadi perubahan
slope akibat sesar turun.
2.Silisifikasi
Karena zona
sesar merupakan zona yang lemah,maka dapat berfungsi sebagai jalur yang lebih
mudah untuk dilewati larutan baik larutan hidrotermal maupun hasil pelarutan
kimiawi,dan bahkan dalam dimensi besar zona sesaar dapat dilalui suatu intrusi
batuan beku,hingga biasanya pola intrusi dapat mengungkapkan pola struktur
geologi suatu daerah.
2. Break ib a stream profile
Terpotongnya
penampang sungai secara melintang oleh sesar,yang terbentuk pada sesar
turun,sehingga sungai akan menampakkan air terjun.
4.Fault scarps
(gawir sesar)
Fault scarps
atau gawir sesar yaitu suatu gawir memanjang mengikuti zona sesar,dapat
ditemukan pada zona sesar turun atau sesar naik,dalam keadaan tertentu scarps
dapat ditemukan pada sesar geser bila suatu bukit yang terpotong.dalam peta
topografi scarps dapat ditunjukkan oleh adanya kelurusan kontur yang rapat.
5. Differences in
sedimentary fasies
Dilapangan
dapat pula ditemukan perubahan facies akibat engaruh structure,yaitu lapisan
tua menindih lapisan muda,dimana faciesnya berbeda,terbentuk karena batuan tua
terdorong keatas hingga menumpangi batuan yang muda,hal ini terjadi pada sesar
naik.
6. Offset Ridges
Offset ridges
atau pergeseran punggung ukit akibat pengaruh sesar geser,banyak ditemukan pada
kompleks pegunungan yang terpotong oleh sesar mendatar.
7. Mineralisasi
Juga seperti
halnya silisifikasi,yaitu terbentuknya mineral tertentu seperti mineral logam
dasar pada zona-zona sesar tersebut
.
8. Crushed and land
slide
Sesar gerus
biasanya dapat menyebabkan mineral feldsfar apabila mendapat suatu kenaikan
tekanan yang tinggi,remukan batuan akan lebih banyak terbentuk,menyebar dan
mengikuti zona sesar.permukaan lapisan batuan menyebabkan kondisi batuan tidak
stabil sehingga dapat menyebabkan longsoran terutama pada zona sesar aktif.
9. Springs (mata
air)
Mata air yang
timbul akibat terpotongnya suatu formasi akuifer,dapat menunjukkan suatu
indikasi sesar,penjajaran mata air akan lebih dimungkinkan oleh keterdapatan
suatu jalur sesar.mata air panas diluar jalur gunung api dapat mengindikasikan
sesar aktif,hal ini terbentuk dari akibat gesekan atau tekanan yang membesar
pada kedalaman yang mana formasi akuifer terpotong oleh sesar sehingga air
panas muncul kepermukaan sebagai indikasi sesar aktif.
10. Offset Stream
Kenampakan
adanya pergeseran aliran sungai akibat sesar mendatar,bentuk sungai membelok
dengan tiba-tiba,melalui jalur sesar yang lurus,bentuk ini menampakkan suatu
meander yang lekas pada daerah sesar dalam bentuk meanser patah.
11. Kaolinization
dan sphjeroidal weathering
Pada batuan
yang banyak mengandung mineral feldsfar apabila mendapat suatu kenaikan tekanan
dan temperature,maka akan terjadi ubahan mineral feldsfar dan membentuk kaolin
yang biasanya pada permukaan batuan tersebut disertai dengan pelapukan kulit
bawang (pengelupasan).
12.Sesar Turun
Pada sesar
turun yang bersifat tumbuh,bila terjadi pengendapan diatasnya akan menyebabkan
variasi dari pada ketebalan sediment yang berbeda.pada bagian yang
turun,sediment akan lebih tebal dibanding dengan bagian yang naik.hal ini akan
nampak jelas apabila diadakan pemboran atau penggalian didaerah sesar tersebut.
13. Mikrofold
Lipatan kecil
yang terdapat pada batuan yang tersesarkan,akibat tekanan yang bekerja pada
batuan plastis,hal ini dapat terjadi pada bagian hanging wall sesar naik.
14.
Timbulnya suatu terumbu karang disepanjang pantai dengan undak-undak gelombang
dapat merupakan indikasi atau gejala pensesaran naik,begitu pula
sebaliknya atau berkembang sesar turun
yang aktif.
15.Topografi Differences
of rocks
Pada sesar
turun dan sesar naik,dapat memberikan suatu kenampakan topografi yang berbeda
dimana suatu batuan yang sama ditemukan bersamaan pada topografi yang sangat
berbeda.pada kenampakan ini dapat ditemukan gejala sesar lainnya berupa
kelainan topografi.
16.Pembentukan
danau pada daerah relative tinggi
Ini dapat
terjadi jika suatu aliran sungai terpotong oleh sesar turun dimana bagian yang
turun adalah bagian hulu sungai sehingga air sungai selanjutnya akan tertampung
membentuk danau-danau.
17. Gejala-gejala
gerakan tanah
Gejala gerakan
tanah sepanjang zona sesar seperti creeping,lngsoran dan lain-lain.aktifitas
sesar yang bekerja terus menerus menyebabkan terganggunya klestabilan dan
resistensi batuan atau topografi,sehingga dapat menimbulkan
gerakan tanah atau batuan.
18.
Batuan
kwarter yang tersesarkan terlebih pada batuan resen yang dapat
menunjukkan indikasi sesar aktif,seperti pada sesar yang terjadi pada
batukarang kwarter dan dapat pula berupa kekar memanjang pada endapan alluvium.
19. Differences in
strike and dip sedimentary rocks
Perbedaan
strike dan dip batuan sediment dapat terjadi oleh pengaruh
pensesaran.pergeseran lapisan batuan akibat sesar dapat menyebaban adanya
perbeaan strike dan dip batuan sediment diantaranya blok yang saling bergeser
paa sesar turun dapat menyebabkan perubahan dip yang mencolok,sedang pengaruh
sesar mendatar,perubahan dip akan terjadi namun dalam keaadaan kacau akibat
tektonik yang kuat,sehingga strike juga berubah.
20. Lithologic
Boundaries
Batas litologi
yang kacau yang juga kadang overlap diantara batuan dapat menunjukkan adanya
sesar,utamanya pada sesar naik,sedangkan
pada sesar turun dan sesar mendatar dapat menyebabkan batas litologi yang
relative lurus tegas dan panjang
21.
Escapment
gejala struktur
yang hamper sama dengan gawir namun gejala ini lebih besar
22.
Soil
purba/Paleosoil
Dijumpai adanya
soil yang berumur paleosen yang dijumpai pada permukaan bumi hali ini jelas
diakibatkan oleh adanya sesar.
23.
dijumpai adanya Ofiolit dan Melange
24. Air
Terjun
Air terjun terbentuk dari adanya patahan atau turunnya suatu perlapisan
batuan secara tiba tiba yang dilalui oleh aliran air. Umumnya air terjun
dijumpai akibat adanya sesar turun
25. Zona hancuran
Zona hancuran merupakan daerah lemah dimana dilalui oleh sesar yang
mengakibatkan batuan yang terdapat pada daerah tersebut mengalami penghancuran
yang kemudian akan membentuk kumpulan dari blok batuan yang hancur.
26. Jalur Kataklasis
Gejala sesar pada batuan kristalin sangat sukar untuk dikenali disebapkan
tidak adanya lapisan lapisan petunjuk. Di daerah yang terdiri dari batuan yang
homogen, sesar biasanya dapat dikenali dengan adanya jalur jalur kataklastis.
Kadang kadang hanya dapat dikenali dibawah mikroskop.
27. Perubahan vegetasi yang mencolok ,
artinya pada suatu topografi terdapat perubahan vegetasi. Pertumbuhan vegetasi yang
berbeda juga mengindikasikan adanya sesar.
Skarn
Skarn
I. Definisi
Skarn dapat
terbentuk selama metamorfisme kontak atau regional. Selain itu juga dari
berbagai macam proses metasomatisme yang melibatkan fluida magmatik,
metamorfik, meteorik, dan yang berasal dari laut. Skarn dapat ditemukan di
permukaan sampai pluton, di sepanjang sesar dan shear zone, di sistem geotermal
dangkal, pada dasar lantai samudra maupun pada kerak bagian bawah yang tertutup
oleh dataran hasil metamorfisme burial dalam. Skarn dibagi menjadi endoskarn
dan eksoskarn dengan didasarkan pada jenis kandungan protolit.
II. Mineralogi
Secara umum,
Kuarsa dan kalsit selalu hadir dalam semua jenis skarn. Sedangkan mineral lain
hanya hadir pada jenis skarn tertentu seperti talk, serpentine, dan brusit yang
hadir hanya pada skarn tipe magnesian.
Berikut kami berikan contoh gambar
dari skarn :

![]() |
| Add caption |
Gbr. Outcrop Skarn Type
III. Evolusi skarn
Formasi dari
skarn deposit merupakan hasil dari proses yang dinamis. Pada sebagian besar
skarn deposit, terdapat beberapa transisi dari metamorfisme distal yang
menghasilkan hornfels dan skarnoid ke metamorfisme proximal yang menghasilkan
skarn yang mengandung bijih berukuran relatif kasar. Selama gradien suhu yang
tinggi dan sirkulasi fluida skala besar akibat intrusi magma, metamorfisme
kontak dapat menjadi lebih kompleks dibandingkan model rekristalisasi isokimia
yang menyusun metamorfisme regional. Semakin kompleks fluida metasomatisme,
akan menghasilkan keterkaitan antara proses metamorfisme yang murni dengan
proses metasomatisme.
IV. Zonasi Skarn deposit
Terdapat pola
zonasi pada skarn pada umumnya. Pola zonasi ini berupa proximal garnet, distal
piroksen, dan idiokras (atau piroksenoid seperti wolastonit, bustamit dan
rodonit) yang terdapat pada kontak antara skarn dan marmer. Selain itu,
masing-masing mineral penyusun skarn dapat menunjukan warna yang sistematis
atau komposisi yang bervariasi dalam pola zonasi yang lebih luas.
V. Petrogenesis
Sebagian
besar skarn deposit secara langsung berhubungan dengan aktivitas pembekuan
batuan beku sehingga terdapat hubungan antara komposisi skarn dengan komposisi
batuan beku. Karakteristik penting lainnya diantaranya tingkat oksidasi,
ukuran, tekstur, kedalaman, maupun seting tektonik dari masing-masing pluton.
Tektonik Setting
Klasifikasi
tektonik yang sangat berguna dari deposit skarn seharusnya mengelompokkan tipe
skarn yang pada umumnya berada bersama dan membedakannya yang secara khusus
terdapat dalam tektonik setting yang khusus. Sebagai contohnya, deposit skarn
calcic Fe-Cu sebenarnya hanyalah tipe skarn yang ditemukan dalam wilayah busur
kepulauan samudra. Banyak dari skarn ini juga diperkaya oleh Co, Ni, Cr, dan
Au. Sebagai tambahan, beberapa skarn yang mengandung emas yang bernilai
ekonomis muncul dan telah terbentuk pada back arc basin yang berasosiasi dengan
busur volkanik samudra (Ray et al., 1988). Beberapa kenampakan kunci yang
menyusun skarn tersebut terpisah dari asosiasinya dengan magma dan kerak yang
lebih berkembang adalah yang berasosiasi dengan pluton yang bersifat gabbro dan
diorit, endoskarn yang melimpah, metasomatisme yang tersebar luas dan
ketidakhadiran Sn dan Pb.
Kebanyakan
deposit skarn berasosiasi dengan busur magmatik yang berkaitan dengan subduksi
dalam kerak benua. Komposisi pluton berkisar dari diorit sampai granit walaupun
pada dasarnya memiliki perbedaan diantara tipe skarn logam yang muncul untuk
mencerminkan lingkungan geologi setempat (kedalaman formasi, pola struktural
dan fluida) lebih pada perbedaan pokok dari petrogenesis (Nakano,et al., 1990).
Sebaliknya, skarn yang mengandung emas pada lingkungan ini berasosiasi dengan
pluton yang tereduksi secara khusus yang mungkin mewakili sejarah geologi yang
khusus. Beberapa Skarn, tidak berasosiasi dengan subduksi yang berkaitan dengan
magmatisme. Pluton yang berkomposisi granit, pada umumnya mengandung muskovit
dan biotit primer, megakristal kuarsa berwarna abu-abu gelap, lubang-lubang
miarolitik, alterasi tipe greisen, dan anomali radioaktif. Skarn yang
terasosiasi, kaya akan timah dan fluor walaupun induk dari elemen lain biasanya
hadir dan mungkin penting secara ekonomis. Perkembangan rangkaian ini termasuk
W, Be, B, Li, Bi, Zn, Pb, U, F, dan REE.
DAFTAR PUSTAKA
-
Atkinson, W. W., Jr. and
Einaudi, M. T., (1978) Skarn formation and
mineralization in the contact aureole at Carr Fork,
Bingham, Utah. Economic Geology, 73, p.1326-1365.
Jumat, 30 September 2011
Makalah Metamorf
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Sekarang
ini, metode pembelajaran di dunia kampus telah berubah. Pemerintah mengubahnya
dengan maksud agar lulusan-lulusan Universitas nantinya dapat lebih
berkwalitas. Oleh karena itu, latar belakang penyusunan makalh ini adalah
dimaksudkan agar mahasiswa lebih aktif dalam mencari materi dan bahan kuliah,
sehingga dosen hanya berperan sebagai mediator.
B.
Maksud
dan Tujuan
Maksud dan tujuan dalam pembuatan makalah ini adalah agar
para pembaca nantinya dapat lebih memahami daripada materi batuan metamorf,
dapat mengetahui pengertian batuan metamorf, agen-agen yang berperan dalam
proses metamorfisme, facies dari batuan metamorf, dan mineral-mineral
penyusunnya.
C.Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang dapat kami buat berkaitan
dengan pembahasan nantinya adalah sebagai berikut :
1.
Apa pengertian dari
batuan metamorf?
2.
Apakah agen-agen dari
batuan metamorf?
3.
Apakah facies-facies
dari batuan metamorf?
4.
Apa saja
mineral-mineral penyusunan batuan metamorf?
BAB II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
- Pengertian Batuan
Metamorf
Batuan metamorf adalah hasil dari perubahan-perubahan fundamental
batuan yang sebelumnya sudah ada. Panas yang intensif yang dipancarkan oleh
suatu massa magma yang sedang mengintrusi menyebabkan metamorfosa kontak.
Metamorfosa regional yang meliputi daerah yang sangat luas disebabkan oleh efek
tekanan dan panas batuan yang terkubur sangat dalam.
Dalam kedua tipe metamorfosa, fluida dalam batuan dapat membatu
perubahan – perubahan kimiawi. Air adalah fluida utama, tetapi unsure – unsure
kimia seperti klor flour, brom, dan lain-lain dapat keluar dari batuan
sekililingnya.
Proses metamorfosa terjadi
dalam fasa padat, tanpa mengalami fasa cair, dengan temperatur 200oC
– 6500C. Menurut Grovi (1931) perubahan dalam batuan metamorf adalah
hasil rekristalisasi dan dari rekristalisasi tersebut akan terbentuk
kristal-kristal baru, begitupula pada teksturnya.
Menurut H. G. F. Winkler
(1967), metamorfisme adealah proses yang mengubah mineral suatu batuan pada
fase padat karena pengaruh terhadap kondisi fisika dan kimia dalam kerak bumi,
dimana kondisi tersebut berbeda dengan sebelumnya. Proses tersebut tidak
termasuk pelapukan dan diagenesa.
Batuan
metamorf atau batuan
malihan adalah batuan yang terbentuk akibat proses perubahan temperatur
dan/atau tekanan dari batuan yang telah ada sebelumnya. Akibat bertambahnya
temperatur dan/atau tekanan, batuan sebelumnya akan berubah tektur dan
strukturnya sehingga membentuk batuan baru dengan tekstur dan struktur yang baru
pula. Apabila semua batuan-batuan yang sebelumnya terpanaskan dan meleleh maka
akan membentuk magma yang kemudian mengalami proses pendinginan kembali dan menjadi
batuan-batuan baru lagi.
- Agen-Agen Batuan
Metamorf
Agen yang dimaksud disini adalah media-media yang berpengaruh atau
berperan dalam pembentukan batuan metamorf tersebut, dalam hal ini disebut
metamorfisme.
Media atau agen yang menyebabkan
terjadinya proses matamorfisme adalah panas,
tekanan, dan cairan kimia aktif. Ketiga agen ini dapat bekerja bersama-sama pada
batuan yang mengalami proses metamorfisme dan kontribusi setiap agen
berbeda-beda. Pada metamorfisme tingkat rendah, kondisi temperatur dan tekanan
hanya sedikit di atas kondisi proses pembatuan pada proses pembentukan batauan
sedimen. Sedangkan pada metamorfisme tingkat tinggi, kondisinya sedikit di
bawah kondisi proses peleburan batuan menjadi magma.
Bagaimana ketiga Agen di atas dapat bertindak sebagai agen yang menyebabkan proses
metamorfisme dapat di baca di bawah ini.
-
Peranan panas dalam proses metamorfisme
Panas merupakan
agen matamorfisme yang sangat penting. Batuan yang terbentuk dekat permukaan
bumi akan mengalami perubahan kalau mengalami pemanasan yang tinggi pada waktu
diterobos oleh magma. Apabila panas magma tidak terlalu tinggi, proses
metamorfisme tidak terjadi. Pada keadaan yang demikian akan terjadi proses
pembakaran batuan yang diterobos yang disebut baking effect.
Batuan yang terbentuk di permukaan
bumi juga dapat mengalami perubahan temperatur yang sangat tinggi apabila
batuan tersebut mengalami proses penimbunan yang dalam. Seperti telah diketahui
bahwa temperatur akan meningkat dengan meningkatnya keadaaan (gradient
geothermal). Pada kerak bumi bagian atas, rata-rata penaikan
temeperatur sekitar 30oC per kilometer. Batuan dekat permukaan bumi
juga dapat mengalami pemindahan tempat ke tempat yang lebih dalam. Proses ini
terjadi pada pertemuan lempeng-lempeng tektonik konvergen, yaitu pada zona subduksi (penunjaman).
Proses perubahan juga terjadi pada
mineral penyusun batuan, yang kestabilannya berubah karena perubahan kedalaman.
Contohnya, mineral lempung menjadi tidak stabil pada kedalaman hanya beberapa
kilometer, dan akan mengalami rekristalisasi menjadi mineral yang lebih stabil
pada kondisi temperatur dan tekanan yang lebih tinggi, akan mengaami proses
metamorfisme pada kedalaman sekitar 30 kilometer.
-
Peranan tekanan dalam proses metamorfisme
Tekanan seperti halnya temperetur akan
meningkat dengan meningkatnya kedalaman. Tekanan ini seperti tekanan gas, akan
sama besarnya ke segala arah. Tekanan yang terdapat di dalam bumi ini merupakan
tekanan tambahan dari tekanan pada batuan oleh pembebanan batuan di atasnya.
Pada keadaan ini batuan akan mengalami penekanan yang berarah, dan pemerasan.
Batuan pada tempat yang dalam akan menjadi plastis pada waktu mengalami
deformasi. Sebaliknya pada tempat yang dekat permukaan bumi, batuan akan
mengalami keretakan pada waktu mengalami deformasi. Hasilnya batuan yang
bersifat rapuh akan hancur dan menjadi material yang lebih halus.
Perhatikan table dan bagan di bawah ini !
-
Cairan kimia aktif sebagai agen metamorfisme
Larutan kimia aktif, umumnya adalah
air yang mengandung ion-ion terlarut, juga dapat menyebabkan terjadinya proses
metamorfisme. Perubahan mineral yang dilakukan oleh air yang kaya mineral dan
panas, telah banyak dipelajari di beberapa pegunungan api. Di sepanjang
pematang pegunungan lantai dasar samudera, sirkulasi air laut pada batuan yang
masih panas mengubah mineral pada batuan beku basalt yang berwarna gelap
menjadi mineral-mineral metamorf seperti serpentin dan talk.
- Facies-facies dari
batuan metamorf
Secara umum, batuan metamorf tidak secara drastic
mengubah komposisi kimia selama metamorfisme, kecuali dalam kasus khusus dimana
metamorfisme yang terlibat (seperti dalam produksi skarn). Perubahan dalam suhu
dan tekanan lingkungan yang batu itu dikenakan . Tekanan dan suhu lingkungan
tersebut sebagai fasies metamorf. Urutan fasies metamorf diamati dalam setiap
metamorf medan, tergantung pada gradient panas bumi yang hadir selama
metamorfisme.
Gradien panas bumi yang tinggi seperti yang diberi label “A”, mungkin akan hadir disekitar batuan beku intrusi, dan akan menghasilkan batuan metamorf milik homfels fasies. Di bawah normal gradient panas bumi tinggi, seperti “B”, batu-batu akan akan maju dari facies zeolit untuk greenschist, amphibolite, dan eclogite facies sebagai kelas metamorfisme (atau kedalaman penguburan) meningkat. Jika gradient panas bumi yang rendah hadir, seperti satu diberi label “C” dalam diagram, maka batu akan kemajuan dari facies zeolit untuk blueschist facies untuk eclogite facies.
Jadi, jika kita mengetahui facies dari batuan metamorf di wilayah ini, kita dapat menetukan apa yang gradient panas bumi pasti seperti pada saat metamorfisme terjadi. Hubungan antara gradient panas bumi dan metamorfisme akan menjadi tema diskusi dan tektonik lempeng.
D. Mineral-Mineral Penyusun Batuan Metamorf
Pada umumnya, mineral-mineral penyusun batuan metamorf sangatlah banyak. Tetapi, yang umum terdapat dalam batuan metamorf adalah seperti di baewah ini.
1. Felspar., bentuk dan sifatnya sama dengan feldspar pada batuan beku atau sedikit pipih karena tekanan.
2. Kwarsa, bentuknya sedikit pipih atau mengkristal tak teraturberwarna agak mengkilap, putih jernih atau putih kehijauan oleh pengotoran mineral-mineral klorit, banyak terdapat dalam batuan gneiss dan sekis serta filit.
3. Mika, bentuk dan sifatnya sama dengan batuan beku, sering dalam bentuk lembaran-lembaran halus, dapat membetikan warna mengkilap pada filit, sekis dll. Banyak terdapat pada batuan sekis dan gneiss.
4. Klorit, berwarna hijau, coklat atau hijau kehitaman, bentuk terpilin atau bengkok, seperti sisik atau seperti tanah.
5. Andalusit, mengkilap dalam system rhombis, prismatic kasar, berwarna pudar, merah jambu sampai merah violet.
6. Aktinoloit, mengkristal dalam system monoklin, menjarum halus, atau serupa serat-serat, rapuh, warna hijau atau abu-abu kehijauan, kilap viterus sampai sutera. Kekerasan 2-3, mineral ini terutama di temukan pada batuan metamorf sekis, gneiss dan marmer.
7. Glaukofan, Kristal monoklin, prismatic seperti serat, batang atau butiran, pecahan concoidal, warna biru abu-abu atau biru kehitaman. Biasanya berasosiasi dengan muscovite, kwarsa, dan sphene.
8. Kianit, bentuk Kristal triklin, memanjang atrau lempeng-lempeng. Kekerasannya 4-7, juga dapat berbentuk serat-serat atau batang. Warna biru laut, kilap vitreus. Ditemukan dalam batuan sekis dan gneis.
9. Garnet, Kristal system regular, bentuk kubus, granular seperti pasir, warna merah jambu hingga merah coklat atau merah tua. Kilap viterus, kekerasan 6,6 – 7,5. Transparan hingga opak, Dijumpai pada batuan sekis dan Gneis.
10. Talk, mengkristal dalam system monoklin, bentuk granular, tipis-tipis seperti mutiara. Berminyak, kekerasan 1 – 2, banyak terdapat dalam batuan sekis, berasosiasi dengan batuan serpentin dan magnesit.
11. Serpentin, bentuk Kristal pipih atau seratan fleksibel. Kilap sutera atau lemak, warna merah kecoklatan dan hiaju kekuningan, kekerasan 3,0 – 5,5. Dijumpai dalam batuan serpentin, atau pada sekis. Berasosiasi dengan klorit dan talk.
12. Kordierit, mengkristal dalam system orthorombik, prismatic pendek, kompak atau granular, berwarna abu-abu kebiruan, hijau kuning atau tak berwarna. Kilap vitreus, seperti gelas dengan kekerasan7-7,5, seperti kwarsa biru. Banyak dijumpai dalam batuan gneiss, sekis dan pegmatite, berasosiasi dengan garnet/granat, mika, kwarsa, andalusit, silimnit, dan staurolit.
13. Silimanit, Kristal seperti kordierit. Panjang-panjang tipis seperti jarum, serabut yang radier atau seperti batang ada striasi, radier, kadang-kadang bengkok, warna abu-abu, putih atau kuning pucat. Ditemukan dalam batuan sekis, gneiss, dan pegmatite.
14. Tremolit, mengkristal dalam system monoklin, lempeng-lempeng berserat seperti asbes, granular. Warna putih, abu-abu, hijau atau kuning. Kilap viterus, belahan prismatic menyudut, 56ºdan 124º. Kekerasan 5 -6, Terdapat dalam batuan sekis, dan marmer.
15. Wolastonit, Kristal system triklin, tabular, prismatic, berserat-serat parallel, menyebar atau granular. Warna putih ke abu-abuan atau tidak berwarna. Kilap sutera, kekerasan 4 – 5, merupakan mineral batuan metamorfisme kontak yang berasosiasi dengan garnet, diopsit, vesuvianit, termolit, epidot, dan kalsit. Banyak ditemukan dalam batuan marmer dekat kontak batuan beku granit.
A. Kesimpulan
Batuan metamorf adalah hasil dari perubahan-perubahan fundamental batuan yang sebelumnya sudah ada. Panas yang intensif yang dipancarkan oleh suatu massa magma yang sedang mengintrusi menyebabkan metamorfosa kontak. Metamorfosa regional yang meliputi daerah yang sangat luas disebabkan oleh efek tekanan dan panas batuan yang terkubur sangat dalam.
Media atau agen yang menyebabkan terjadinya proses matamorfisme adalah panas, tekanan, dan cairan kimia aktif. Ketiga agen ini dapat bekerja bersama-sama pada batuan yang mengalami proses metamorfisme dan kontribusi setiap agen berbeda-beda.
Secara umum, batuan metamorf tidak secara drastic mengubah komposisi kimia selama metamorfisme, kecuali dalam kasus khusus dimana metamorfisme yang terlibat (seperti dalam produksi skarn). Perubahan dalam suhu dan tekanan lingkungan yang batu itu dikenakan . Tekanan dan suhu lingkungan tersebut sebagai fasies metamorf. Urutan fasies metamorf diamati dalam setiap metamorf medan, tergantung pada gradient panas bumi yang hadir selama metamorfisme.
Mineral-mineral yang umum terdapat dalam batuan metamorf adalah Felspar, kwarsa, Mika, Klorit, Andalusit, Aktunolit, Glaukofan dan lain-lain.
B. Saran
Dalam praktikum di laboratorium sebaiknya lebih di intensifkan lagi, atau paling tidak lebih di tekankan lagi sehingga praktikan dapat lebih mengerti dan memahami dari pada materi.
o Budi, Rohmanto, Ir. Geologi Fisik. Makassar : Universitas Hasanuddin, 2008.
o M.S. Kaharuddin. Penuntun Praktikum Petrologi. Makassar : Jurusan Teknik Geologi, 1988.
o Setia Graha, Doddy, Ir. Batuan dan Mineral. Bandung : Nova, 1987.
Jadi, jika kita mengetahui facies dari batuan metamorf di wilayah ini, kita dapat menetukan apa yang gradient panas bumi pasti seperti pada saat metamorfisme terjadi. Hubungan antara gradient panas bumi dan metamorfisme akan menjadi tema diskusi dan tektonik lempeng.
D. Mineral-Mineral Penyusun Batuan Metamorf
Pada umumnya, mineral-mineral penyusun batuan metamorf sangatlah banyak. Tetapi, yang umum terdapat dalam batuan metamorf adalah seperti di baewah ini.
1. Felspar., bentuk dan sifatnya sama dengan feldspar pada batuan beku atau sedikit pipih karena tekanan.
2. Kwarsa, bentuknya sedikit pipih atau mengkristal tak teraturberwarna agak mengkilap, putih jernih atau putih kehijauan oleh pengotoran mineral-mineral klorit, banyak terdapat dalam batuan gneiss dan sekis serta filit.
3. Mika, bentuk dan sifatnya sama dengan batuan beku, sering dalam bentuk lembaran-lembaran halus, dapat membetikan warna mengkilap pada filit, sekis dll. Banyak terdapat pada batuan sekis dan gneiss.
4. Klorit, berwarna hijau, coklat atau hijau kehitaman, bentuk terpilin atau bengkok, seperti sisik atau seperti tanah.
5. Andalusit, mengkilap dalam system rhombis, prismatic kasar, berwarna pudar, merah jambu sampai merah violet.
6. Aktinoloit, mengkristal dalam system monoklin, menjarum halus, atau serupa serat-serat, rapuh, warna hijau atau abu-abu kehijauan, kilap viterus sampai sutera. Kekerasan 2-3, mineral ini terutama di temukan pada batuan metamorf sekis, gneiss dan marmer.
7. Glaukofan, Kristal monoklin, prismatic seperti serat, batang atau butiran, pecahan concoidal, warna biru abu-abu atau biru kehitaman. Biasanya berasosiasi dengan muscovite, kwarsa, dan sphene.
8. Kianit, bentuk Kristal triklin, memanjang atrau lempeng-lempeng. Kekerasannya 4-7, juga dapat berbentuk serat-serat atau batang. Warna biru laut, kilap vitreus. Ditemukan dalam batuan sekis dan gneis.
9. Garnet, Kristal system regular, bentuk kubus, granular seperti pasir, warna merah jambu hingga merah coklat atau merah tua. Kilap viterus, kekerasan 6,6 – 7,5. Transparan hingga opak, Dijumpai pada batuan sekis dan Gneis.
10. Talk, mengkristal dalam system monoklin, bentuk granular, tipis-tipis seperti mutiara. Berminyak, kekerasan 1 – 2, banyak terdapat dalam batuan sekis, berasosiasi dengan batuan serpentin dan magnesit.
11. Serpentin, bentuk Kristal pipih atau seratan fleksibel. Kilap sutera atau lemak, warna merah kecoklatan dan hiaju kekuningan, kekerasan 3,0 – 5,5. Dijumpai dalam batuan serpentin, atau pada sekis. Berasosiasi dengan klorit dan talk.
12. Kordierit, mengkristal dalam system orthorombik, prismatic pendek, kompak atau granular, berwarna abu-abu kebiruan, hijau kuning atau tak berwarna. Kilap vitreus, seperti gelas dengan kekerasan7-7,5, seperti kwarsa biru. Banyak dijumpai dalam batuan gneiss, sekis dan pegmatite, berasosiasi dengan garnet/granat, mika, kwarsa, andalusit, silimnit, dan staurolit.
13. Silimanit, Kristal seperti kordierit. Panjang-panjang tipis seperti jarum, serabut yang radier atau seperti batang ada striasi, radier, kadang-kadang bengkok, warna abu-abu, putih atau kuning pucat. Ditemukan dalam batuan sekis, gneiss, dan pegmatite.
14. Tremolit, mengkristal dalam system monoklin, lempeng-lempeng berserat seperti asbes, granular. Warna putih, abu-abu, hijau atau kuning. Kilap viterus, belahan prismatic menyudut, 56ºdan 124º. Kekerasan 5 -6, Terdapat dalam batuan sekis, dan marmer.
15. Wolastonit, Kristal system triklin, tabular, prismatic, berserat-serat parallel, menyebar atau granular. Warna putih ke abu-abuan atau tidak berwarna. Kilap sutera, kekerasan 4 – 5, merupakan mineral batuan metamorfisme kontak yang berasosiasi dengan garnet, diopsit, vesuvianit, termolit, epidot, dan kalsit. Banyak ditemukan dalam batuan marmer dekat kontak batuan beku granit.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Batuan metamorf adalah hasil dari perubahan-perubahan fundamental batuan yang sebelumnya sudah ada. Panas yang intensif yang dipancarkan oleh suatu massa magma yang sedang mengintrusi menyebabkan metamorfosa kontak. Metamorfosa regional yang meliputi daerah yang sangat luas disebabkan oleh efek tekanan dan panas batuan yang terkubur sangat dalam.
Media atau agen yang menyebabkan terjadinya proses matamorfisme adalah panas, tekanan, dan cairan kimia aktif. Ketiga agen ini dapat bekerja bersama-sama pada batuan yang mengalami proses metamorfisme dan kontribusi setiap agen berbeda-beda.
Secara umum, batuan metamorf tidak secara drastic mengubah komposisi kimia selama metamorfisme, kecuali dalam kasus khusus dimana metamorfisme yang terlibat (seperti dalam produksi skarn). Perubahan dalam suhu dan tekanan lingkungan yang batu itu dikenakan . Tekanan dan suhu lingkungan tersebut sebagai fasies metamorf. Urutan fasies metamorf diamati dalam setiap metamorf medan, tergantung pada gradient panas bumi yang hadir selama metamorfisme.
Mineral-mineral yang umum terdapat dalam batuan metamorf adalah Felspar, kwarsa, Mika, Klorit, Andalusit, Aktunolit, Glaukofan dan lain-lain.
B. Saran
Dalam praktikum di laboratorium sebaiknya lebih di intensifkan lagi, atau paling tidak lebih di tekankan lagi sehingga praktikan dapat lebih mengerti dan memahami dari pada materi.
DAFTAR PUSTAKA
o Budi, Rohmanto, Ir. Geologi Fisik. Makassar : Universitas Hasanuddin, 2008.
o M.S. Kaharuddin. Penuntun Praktikum Petrologi. Makassar : Jurusan Teknik Geologi, 1988.
o Setia Graha, Doddy, Ir. Batuan dan Mineral. Bandung : Nova, 1987.
Langganan:
Postingan (Atom)









